Sore pun akhirnya tiba,
inilah yang paling ia takuti. Latihan cheerleader sudah usai sejak jam lima
sore. Ia terlanjur bilang pada Dad bahwa dia akan pulang agak larut, jadi Ia tak
bisa dan tak akan pulang sekarang. Haruskah dia pulang dan ikut dinner bersama
Anne? Tidak, Tidak harus. Wendy saja tidak mau berbagi oksigen dengannya.
Wendy melamun sambil melihat langit sore. Dia
bingung, kemana dia seharusnya pergi? Oh andaikan Mom masih bernapas di dunia
ini pasti aku tak akan mengalami masalah ini, batinnya.
“Hey Captain! Sedang apa? Kok melamun? Nanti
kesurupan lho…”.Wendy terbangun dari lamunannya. Tiba-tiba saja Nadine berada
di sebelahnya. “Pasti kau lagi kesulitan ya? Ceritakan saja padaku!” Wendy
menarik napasnya dalam-dalam, lalu menghembuskannya. “It’s about My Dad. Anne,
pacarnya, sudah menghilangkan semua ingatannya tentang anaknya ini dan almarhum
istrinya. Kupikir Anne adalah nenek sihir! Setiap malam pasti Dad berada di
rumah Anne dan meninggalkanku sendiri di mansion. Ayah macam apa itu?!” kata
Wendy, emosinya meluap-luap. “Tenang, tenang Wendy. Jadi apa inti masalahmu
itu?” Nadine bertanya. “Malam ini dia akan mengajak Anne dinner di mansionku.
Aku bilang aku akan berlatih cheerleader hingga malam. Sekarang aku harus pergi
kemana? Aku tak mau pulang….”. Mereka berdua pun terdiam, Nadine terlihat
berpikir keras demi menemukan jalan keluar untuk sahabatnya itu. “Ah! Bagaimana
kalau kau ikut aku dan Edmund ke tengah kota?! It’ll be fun!”.”Tidak, terima
kasih. Nanti aku jadi kambing congek
lagi,”. “Tidak akan! Kan kau bersama Greyson! Kumohon….” Nadine memegang tangan
Wendy lalu menunjukkan ‘tatapan penuh harap’nya. “Oke baiklah, ayo kita pergi!”
To Be Continued....
To Be Continued....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar