Selasa, 04 Desember 2012

Sunshine and City Lights ( chapter 4 )


Dinner Greyson dan Wendy sudah usai daritadi. Tapi, Nadine dan Edmund tidak datang-datang juga. Greyson pun menemukan ide agar mereka berdua tidak berdiam-diam saja.

Hey, you wanna play a game?”
What kind of game?”.
”Ayo ikuti aku!”.

Greyson menarik tangan Wendy dan berlari menuju air mancur di dekat taman. “Lempar koin ini ke kolam. Sebelum melempar, coba kau sebutkan namamu, hal yang kau suka dan hal yang kau benci serta harapanmu! Bisa saja terkabul,” Greyson lalu memberi Wendy sebuah koin. “Oh ya? Kalau tidak terwujud aku salahin kamu ya?” canda Wendy. “Coba saja, seru lho. Memang ini bisa dipercaya atau tidak. Hahaha.”.

Wendy mundur beberapa langkah, Ia pun mengangkat lengan kanannya sambil memegang koin pemberian Greyson, lalu ia menutup matanya. “Namaku Wednesday Stone. Hal yang kusukai melihat cahaya mentari dan lampu kota, sedangkan yang kubenci adalah semua tentang pacar baru Dad dan harapanku adalah semoga Dad memutuskan hubungannya dengan Anne!!!!!!” teriaknya. Wendy pun melempar koin itu sekencang-kencangnya Lalu koin itu pun jatuh di dasar kolam. “Great Job! Sekarang giliranku.”

Greyson mengambil langkah dan mulai berkata, “Namaku Greyson Chance. Hal yang kusukai adalah musik dan yang kubenci adalah air mata. Kuharap aku bisa jadi musisi terkenal suatu hari nanti dan aku bisa menyanyikan satu lagu yang kubuat untuk ‘my future girlfriend’. Amiiiin!!!” Greyson mengambil ancang-ancang, lalu melempar koinnya. “Wow, kau adalah pelempar yang hebat,” puji Wendy.

“Ah, bisa saja. By the way, kau suka cahaya mentari dan lampu kota?” Tanya Greyson.

“Ya! Dua hal favoritku! Setiap hari aku bangun jam lima pagi. Menunggu matahari terbit dan lampu-lampu kota yang padam. Aku sering melakukannya sejak aku berumur tiga tahun,” 

“Sepertinya dua hal favoritmu telah mendatangkanku sebuah ide untuk lagu baruku,”

“Oh ya? Aku ingin mendengarnya!” kata Wendy antusias.

“Wow, not so fast. Kira-kira lagu ini selesai minggu depan, hari jum’at. Kau ada waktu?”

“Ya, tentu saja. Bagaimana kalau di mansionku? Ajak Nadine juga ya,”

“Haha Baiklah. Di mansionmu jam lima sore, okay?”

“Allright! Hmm, sebaiknya kita menyusul mereka.”

“Okay,”

To Be Continued....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar