Dinner
Greyson dan Wendy sudah usai daritadi. Tapi, Nadine dan Edmund tidak
datang-datang juga. Greyson pun menemukan ide agar mereka berdua tidak
berdiam-diam saja.
“Hey, you wanna play a game?”
”What kind of game?”.
”Ayo
ikuti aku!”.
Greyson
menarik tangan Wendy dan berlari menuju air mancur di dekat taman. “Lempar koin
ini ke kolam. Sebelum melempar, coba kau sebutkan namamu, hal yang kau suka dan
hal yang kau benci serta harapanmu! Bisa saja terkabul,” Greyson lalu memberi
Wendy sebuah koin. “Oh ya? Kalau tidak terwujud aku salahin kamu ya?” canda
Wendy. “Coba saja, seru lho. Memang ini bisa dipercaya atau tidak. Hahaha.”.
Wendy
mundur beberapa langkah, Ia pun mengangkat lengan kanannya sambil memegang koin
pemberian Greyson, lalu ia menutup matanya. “Namaku Wednesday Stone. Hal yang
kusukai melihat cahaya mentari dan lampu kota, sedangkan yang kubenci adalah semua
tentang pacar baru Dad dan harapanku adalah semoga Dad memutuskan hubungannya
dengan Anne!!!!!!” teriaknya. Wendy pun melempar koin itu sekencang-kencangnya
Lalu koin itu pun jatuh di dasar kolam. “Great Job! Sekarang giliranku.”
Greyson
mengambil langkah dan mulai berkata, “Namaku Greyson Chance. Hal yang kusukai
adalah musik dan yang kubenci adalah air mata. Kuharap aku bisa jadi musisi
terkenal suatu hari nanti dan aku bisa menyanyikan satu lagu yang kubuat untuk
‘my future girlfriend’. Amiiiin!!!”
Greyson mengambil ancang-ancang, lalu melempar koinnya. “Wow, kau adalah
pelempar yang hebat,” puji Wendy.
“Ah,
bisa saja. By the way, kau suka
cahaya mentari dan lampu kota?” Tanya Greyson.
“Ya!
Dua hal favoritku! Setiap hari aku bangun jam lima pagi. Menunggu matahari
terbit dan lampu-lampu kota yang padam. Aku sering melakukannya sejak aku
berumur tiga tahun,”
“Sepertinya
dua hal favoritmu telah mendatangkanku sebuah ide untuk lagu baruku,”
“Oh
ya? Aku ingin mendengarnya!” kata Wendy antusias.
“Wow,
not so fast. Kira-kira lagu ini
selesai minggu depan, hari jum’at. Kau ada waktu?”
“Ya,
tentu saja. Bagaimana kalau di mansionku? Ajak Nadine juga ya,”
“Haha
Baiklah. Di mansionmu jam lima sore, okay?”
“Allright!
Hmm, sebaiknya kita menyusul mereka.”
“Okay,”
To Be Continued....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar