“Greyson, bagaimana
dengan acara sore ini? Jadi?” Wendy menepuk pundak Greyson. Greyson segera
menutup lokernya dan menjawab pertanyaan Wendy.
“Ya, tentu saja!”
“Apakah Nadine ikut? Kan lebih seru kalau lebih
ramai!”
“Dia tidak bisa ikut. Dia ada acara bersama Edmund
malam ini,”
“Okay, tak apa. Bagaima kalau aku berkunjung ke
rumahmu? Sekalian aku membantumu membawa gitar atau yang lain,” Kata Wendy
menawarkan bantuan.
“Tak usah, nanti namanya bukan kejutan lagi, haha.
Aku akan berkunjung ke mansionmu jam lima”
“Yasudah. Satu jam lagi kita bertemu. Bye!”
Wendy berjalan menjauhi Greyson sambil melambaikan
tangannya. Greyson pun membalas lambaiannya itu. Seharusnya dia segera pulang
dan menyiapkan semuanya, tapi entah mengapa dia pergi mengunjungi taman yang
dikunjunginya bersama Greyson seminggu yang lalu. Dilihatnya dua koin yang diam
berdampingan, Koin milik Wendy dan Greyson. Wendy terus saja duduk di sisi
kolam sambil menatap dasar kolam dengan pandangan kosong, mengingat semua
kejadian beberapa malam yang lalu. Sangat menyenangkan, katanya dalam hati.
“Astaga! Sudah jam setengah lima? Aku harus cepat!”
Wendy berlari keluar taman dan mulai mencari taksi.
Setiap taksi yang lewat tidak menghiraukannya. Tanpa pikir panjang, Wendy pun
berlari sekencang-kencangnya. Untunglah, Wendy sampai di mansionnya tepat
waktu. Ketika memasuki lobby mansion, Gadis berambut hitam itu melihat seorang
laki-laki duduk di sofa. Disampingya terdapat satu kantung besar dan sebuah
gitar klasik. Sedetik kemudian, handphone Wendy berbunyi, tanda ada telepon
masuk. Nama Greyson terpampang di layar handphonenya. “Halo Grey,” jawabnya.
Tiba-tiba laki-laki itu menoleh dan ternyata itu adalah Greyson Chance.
“Wendy! Dari mana kau? Kukira kau berada di
mansionmu.” Greyson pun menghampiri Wendy sambil membawa kantung besar dan
gitar tersebut.
"Aku ada urusan tadi, kantung apa itu Grey?” Jawab
Wendy mengalihkan pembicaraan. Senyum Greyson mengembang, Greyson pun menarik
tangan Wendy, “Liat saja nanti, hahaha. Ayo kita ke atas,”
Greyson memasuki Lift diikuti Wendy dibelakangnya.
Lift yang mereka naiki, dilapisi kaca jendela dibelakangnya, sehingga cahaya
matahari masuk ke dalam lift tersebut. “Wow, pantas saja kau suka tinggal
disini! Pemandangannya indah!” Greyson sangat excited melihat pemandangan dari lift itu.
Lift berhenti di lantai 7. Mereka lalu berjalan dan
berhenti di depan pintu bernomorkan 7-8. Wendy mengambil kunci lalu membuka
pintunya. “Ayo masuk!” ajak Wendy. Ia menyalakan lampu ruang tengah dan dapur.
Keadaan di mansionnya sangat hening dan sunyi. “Tidak ada siapa-siapa?” Tanya
Greyson. “Tidak. Hampir setiap malam suasananya seperti ini, kaya anak kuliahan
deh..”. Mereka lalu duduk di sofa ruang tengah, rasa penasaran Wendy pun sudah
tidak bisa dibendung, kemudian ia menanyakan tentang lagu itu, “Ayo, aku ingin
mendengar lagumu!” katanya antusias. “okay, dengar baik-baik ya,”. Greyson
mengambil gitarnya, lalu suara-suara gitar mulai terdengar. “Lagu ini
kupersembahkan untuk sahabatku, Wednesday Stone. Enjoy it Wendy!” Kemudian
Greyson pun bernyanyi.
“It's taking us downtown
You're watching me watching me watching me go
But I never listen
No I never let you know
Now we're heading uptown
Is there something or nothing you wanted to say?
'Cause I need to go now
Do you want me to stay?
I said stay...
What you need to know
Is to try and let it go let it go
What you need to find
Is someone who never will let you go
And oh oh
Sunshine and city lights will guide you home
And oh oh
Yeah you gotta know that I'll never let you go
Now we're stuck in midtown
Surrounded by people and nothing but sound
And we're going nowhere
And we are the lost and found
We're all over this town
Is there something or nothing you wanted to say?
Do you want me to go now?
'Cause baby I want to stay..
Oh stay...
What you need to know
Is to try and let it go let it go
What you need to find
Is someone who never will let you go
And oh oh
And sunshine and city lights will guide you home
And oh oh
Yeah you gotta know that I'll never let you go”
Setiap alunan musik yang
ditimbulkan oleh suara petikan gitar dan suara emas Greyson membuat Wendy
melayang. Melayang ke kota-kota yang disebutkan dalam lagu tersebut. Lagu itu
membuat dirinya terasa seperti di suatu tempat. Suatu tempat yang tenang,
hangat dan romantis. Wendy bertepuk tangan, kemudian Ia berkata, “Greyson
Chance, kau adalah gitaris, musisi dan penyanyi terhebat yang pernah aku tahu
seumur hidupku!” Wendy tetap menepukkan kedua tangannya, tanda Ia sangat
terkesan dengan lagu, cara bermain gitar dan suara Greyson. “Thanks. Aku juga
sangat menyukai lagu ini! Sangat romantis menurutku,” Sahutnya. Greyson
menyimpan gitarnya, kini ia mengambil kantung besar yang dibawanya tadi,
Greyson lalu membuka kantung tersebut dan mengeluarkan isinya. Besar, Indah,
Berwarna-warni. Wendy mengerjap-ngerjapkan matanya saat melihat benda itu.
Greyson memegang sebuah gorden
besar dengan gambar matahari terbit di tengah-tengah gedung pencakar langit. Dua hal favorit Wednesday Stone.
“Oh my!” serunya. “Greyson! It’s
so beautiful!”
“Really? Ini buatan Nadine, tapi Idenya berasal dariku, aku juga
ikut membuatnya,” Greyson meletakkan gorden itu di lantai. “Do you like it?”
“Of Course! Kalian sangat hebat!” Wendy terus memperhatikan gorden
tersebut. Sorotan matanya menyatakan bahwa Ia sangat kagum dengan hasil karya
Nadine dan Greyson itu.
“Itu adalah hadiah dariku
untukmu,”
“Sungguh? Ini sangat keren,
Greyson! Kau dan Nadine memang sangatlah kreatif! Terima Kasih. Terima Kasih
banyak,”
“My Pleasure,”
“Tunggu
disini, aku akan segera memasangnya,” Wendy segera pergi ke kamarnya dengan membawa
gorden pemberan Greyson, sedangkan Greyson melihat-lihat bingkai-bingkai foto
yang tertera di dinding. Foto seorang Pria, Wanita dan Gadis kecil dengan
rambut berwarna hitam. Wajah mereka terlihat sangat gembira. Apalagi Gadis
kecil itu, wajahnya ceria sekali, seakan dia tak pernah merasakan sedih atau
marah. Pria, Wanita dan Gadis kecil itu…
Wednesday Stone dan Ayah beserta
Ibunya.
“Greyson, What do you want for dinner? Aku bisa membuatkannya untukmu,
Sebagai tanda Terima Kasih-ku,” sahut Wendy dari dapur. Tidak ada jawaban dari
Laki-laki itu. Wendy mencoba bertanya lagi, “Greysooon, apakah kau mendengarku?”.
Tetap saja tak ada jawaban. Ia lalu menghampiri Greyson. Greyson yang mendengar
langkah kakinya, langsung menolehkan kepalanya.
“Oh Wendy, kukira kau masih di kamar. Aku sedang melihat-lihat
fotomu. You’re so cute in that photo,”
pujinya.
Wendy menyunggingkan senyumnya sambil berkata. “Thank you,"
Kemudian Ia berjalan beberapa langkah tepat ke sebelah Greyson
untuk bergabung.
“Kau tau yang ada di sebelah Ayahku itu?” Tanya Wendy.
Greyson membuka mulutnya, “Tidak,”
Dia Ibuku,”
“Beliau sangat cantik. Wajahnya
mirip denganmu,”
“Ibuku meninggal ketika aku
masih berumur 10 tahun. Beliau mengalami kecelakaan…….tepat saat hari ulang
tahunnya,”
“Maafkan aku Wendy, Aku tidak
bermaksud untuk….”
Wendy memotong kata-kata
Greyson, “Tak apa-apa Greyson,”
“Oh ya, apa yang baru saja kau
tanyakan padaku?”
“Tadi aku bertanya, apa yang kau
mau untuk dinner? Aku bisa membuatkannya untukmu, sebagai tanda Terima Kasih-ku,”
“Apapun. Aku akan senang
memakannya jika masakanmu enak,” canda Greyson.
Wendy tertawa kecil, “Kalau tak
enak kau harus tetap memakannya ya,” sambung Wendy.
“Okay lebih baik kita berdua
saja yang buat, aku tak mau merepotkanmu,” Lalu Greyson berjalan ke dapur,
mengambil penggorengan dan memakai kantung kertas belanjaan, persis seperti Koki
Profesional. Wendy tertawa kecil melihat kelakuannya itu, “Baiklah kalau itu
maumu,”To Be Continued....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar