Sinar matahari menembus gorden dan menyentuh wajah Wendy. Dilihatnya Jam di dinding yang menunjukkan pukul delapan pagi. Wendy bangun dari kasurnya lalu berdiri di depan pintu kamarnya. Samar-samar terdengar suara TV dari ruang tengah. Padahal Ia yakin tadi malam Ia tidak menyalakan TV. Mungkinkah Dad sudah pulang?
Wendy kembali berbaring di kasurnya. Ia malas keluar kamar. Semoga saja aku bisa bertahan sampai Dad pergi, pikirnya. Tiba-tiba seseorang membuka pintu kamarnya. Ia pun berpura-pura tertidur. Dad duduk di sisi kasur sambil membelai rambut Wendy.
“Dad tau kau sudah bangun,”
Rencana gagal, batinnya. Ia terbangun kembali dan membuka gorden.
“Wednesday, Dad perlu bicara denganmu,” kata Dad, nadanya terlihat serius. Wendy duduk di sebelah Dad. Perasaannya tak enak, jantungnya juga berdegup kencang. Apakah hal buruk akan terjadi nanti?
“Maafkan Dad kalau akhir-akhir ini tidak pernah pulang,”
“It’s alright Dad,” tanggapnya ketus.
“Dad tahu kau tidak menyukai Aunt Anne,”
“Tentu saja. Dia telah mengambil Dad dari Mom. Mungkin sekarang Dad sudah tidak memikirkan Mom lagi,” kata-kata Wendy keluar begitu saja.
“Bukan begitu. Dad hanya ingin kau bisa merasakan rasanya punya Ibu kembali. Kau butuh kasih sayang dari seorang Ibu, Wendy,” tuturnya lembut.
Kasih sayang seorang Ibu? Apa?! Tidak, ini tidak mungkin terjadi.
“Dad hanya ingin bilang….”
Perasaan Wendy semakin tidak enak. Tiba-tiba tubuhnya kaku dan tenggorokannya kering, untuk menelan ludah saja sangat susah baginya.
“Setuju kah kalau….”
Kata-kata Dad terpotong-potong. Semakin membuatnya kaku. Matanya melotot kearah mata Dad dan tidak mengedip beberapa saat.
“Setuju kah kalau Aunt Anne menjadi Ibu barumu?”
Kata-kata itu pun terucap dari mulut Dad. Tuhan, tolong katakan padaku bahwa ini adalah mimpi, batin Wendy. Wendy menggeleng-geleng kepala pelan. Air mata membendung di sudut matanya.
“Dad tahu kau tak ingin mengganti Mom, tapi kau juga harus mendapat perhatian seorang Ibu kan? Dad melakukan ini karena Dad sayang padamu Wendy,” Ayahnya tetap menjelaskan tanpa ada nada emosi.
Air mata Wendy yang tadinya keluar hanya bertetes-tetes, kini menjadi deras. Dia tidak mau ada yang mengganti Mom. Hatinya perih. Seperti ada pisau yang menikam jantungnya berkali-kali.
“Aku t-t-tidak mau meng-mengganti M-o-o-om, Dad. Bukankah kau mengerti?” Katanya terbata-bata. “Dengarkan Dad dulu Wendy…..”
“Aku tidak tau Dad! Kupertimbangkan nanti!!!!” kini amarahnya pun keluar. Wendy membuka pintu kaca balkonnya lalu membantingkannya. Ia lalu berbalik menatap gedung-gedung pencakar langit. Wendy menangis tak henti-henti, “Tuhan, kenapa semuanya bisa terjadi seperti ini? Mom, I really need you now….” Katanya sambil terisak-isak.
Semua sudah terjadi. Tuhan sudah berkehendak. Mau tak mau Wendy harus menerima Anne sebagai pengganti Ibunya. Tapi, bisakah Wendy menghabiskan waktunya dengan Anne? Wajahnya saja Ia tidak tahu, apalagi sifatnya.
“Oh My God. What am I supposed to do?”
To Be Continued....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar