Kamis, 27 Desember 2012

Sunshine and City Lights (Chapter 7)


Hari berlangsung sangat cepat. Rasanya baru kemarin Dad menanyakan tentang pengganti Mom. Sampai saat ini Wendy belum menjawabnya. Dia menghabiskan seminggu ini hanya dengan diam dan melamun saja, melamun memikirkan tentang jawaban apa yang harus dikatakan kepada Dad. Di kelas apa pun dia tetap melamun dan melihat papan tulis dengan pandangan kosong.
Akhirnya saat yang ditunggu telah tiba, yaitu bel pulang sekolah. Semua anak di kelasnya bersorak gembira karena hari ini adalah hari terakhir sekolah. Tidak seperti yang lain, Wendy hanya cemberut. Ia keluar dari kelasnya dan menuju ke lapangan football untuk berdiam diri, mencoba melepas bebannya. Ia duduk di kursi lalu membenamkan wajahnya di lengannya. Pertanyaan Dad masih terngiang-ngiang, tak lama kemudian air mata menetes dari sudut matanya. Wendy ingin sekali menjawab ‘tidak’, tetapi jawaban itu pasti tidak akan ditanggapi oleh Dad. Wendy menangis, menangis tersedu-sedu.  Ia berteriak sekencang-kencangnya, tidak peduli pada sekelilingnya karena itu bisa membuat bebannya lenyap.
“Wendy!” teriak seseorang dari arah kiri. Wendy tetap membenamkan wajahnya. Suara langkahan kaki terdengar oleh Wendy, seseorang sedang berjalan mendekatinya. Orang itu kini berdiri tepat di depan Wendy, lalu kedua tangan orang itu memegang bahu Wendy. “Wendy berhentilah! Ini aku, Greyson,” sahutnya. Wendy mengangkat kepalanya perlahan, ternyata benar itu adalah Greyson.
“Ada apa denganmu?” Tanya Greyson.
Wendy mengusap air mata dari pipinya. Dia memandang Greyson sejenak, sebuah senyuman muncul dari bibirnya. “Aku sedang dalam masalah berat, Greyson”.
“Kau tahu, aku mencarimu kemana-mana, ternyata kamu ada disini,”
Wendy menatap heran. Untuk apa Greyson mencarinya?
“Aku hanya ingin bertanya,”
“Tanya apa?”
“Aku punya dua tiket untuk pergi ke New York City malam ini. Do you wanna come with me?”
“Entahlah Grey, aku bingung,”
“Ayolah, Hanya malam ini saja kok. You need a break!”
Wendy terdiam sebentar, dilihatnya Greyson yang tetap berdiri di depannya, menunggu jawaban atas ajakan itu. “Baiklah. Aku akan tunggu di rumahmu, jam 7 malam,” kata Wendy. Senyum Greyson mengembang perlahan, tiba-tiba Greyson menarik tangan Wendy dan berkata, “Ayo kita pulang! Tonight is gonna be the best night ever!”

To Be Continued....

Selasa, 18 Desember 2012

Sunshine and City Lights (Chapter 6)


Sinar matahari menembus gorden dan menyentuh wajah Wendy. Dilihatnya Jam di dinding yang menunjukkan pukul delapan pagi. Wendy bangun dari kasurnya lalu berdiri di depan pintu kamarnya. Samar-samar terdengar suara TV dari ruang tengah. Padahal Ia yakin tadi malam Ia tidak menyalakan TV. Mungkinkah Dad sudah pulang?
Wendy kembali berbaring di kasurnya. Ia malas keluar kamar. Semoga saja aku bisa bertahan sampai Dad pergi, pikirnya.  Tiba-tiba seseorang membuka pintu kamarnya. Ia pun berpura-pura tertidur. Dad duduk di sisi kasur sambil membelai rambut Wendy.
“Dad tau kau sudah bangun,”
Rencana gagal, batinnya. Ia terbangun kembali dan membuka gorden.
“Wednesday, Dad perlu bicara denganmu,” kata Dad, nadanya terlihat serius. Wendy duduk di sebelah Dad. Perasaannya tak enak, jantungnya juga berdegup kencang. Apakah hal buruk akan terjadi nanti?
“Maafkan Dad kalau akhir-akhir ini tidak pernah pulang,”
It’s alright Dad,” tanggapnya ketus.
“Dad tahu kau tidak menyukai Aunt Anne,”
“Tentu saja. Dia telah mengambil Dad dari Mom. Mungkin sekarang Dad sudah tidak memikirkan Mom lagi,” kata-kata Wendy keluar begitu saja.
“Bukan begitu. Dad hanya ingin kau bisa merasakan rasanya punya Ibu kembali. Kau butuh kasih sayang dari seorang Ibu, Wendy,” tuturnya lembut.
Kasih sayang seorang Ibu? Apa?! Tidak, ini tidak mungkin terjadi.
“Dad hanya ingin bilang….”
Perasaan Wendy semakin tidak enak. Tiba-tiba tubuhnya kaku dan tenggorokannya kering, untuk menelan ludah saja sangat susah baginya.
“Setuju kah kalau….”
Kata-kata Dad terpotong-potong. Semakin membuatnya kaku. Matanya melotot kearah mata Dad dan tidak mengedip beberapa saat.
“Setuju kah kalau Aunt Anne menjadi Ibu barumu?”
Kata-kata itu pun terucap dari mulut Dad. Tuhan, tolong katakan padaku bahwa ini adalah mimpi, batin Wendy. Wendy menggeleng-geleng kepala pelan. Air mata membendung di sudut matanya.
“Dad tahu kau tak ingin mengganti Mom, tapi kau juga harus mendapat perhatian seorang Ibu kan? Dad melakukan ini karena Dad sayang padamu Wendy,” Ayahnya tetap menjelaskan tanpa ada nada emosi.
Air mata Wendy yang tadinya keluar hanya bertetes-tetes, kini menjadi deras. Dia tidak mau ada yang mengganti Mom. Hatinya perih. Seperti ada pisau yang menikam jantungnya berkali-kali.
“Aku t-t-tidak mau meng-mengganti M-o-o-om, Dad. Bukankah kau mengerti?” Katanya terbata-bata. “Dengarkan Dad dulu Wendy…..”
“Aku tidak tau Dad! Kupertimbangkan nanti!!!!” kini amarahnya pun keluar. Wendy membuka pintu kaca balkonnya lalu membantingkannya. Ia lalu berbalik menatap gedung-gedung pencakar langit. Wendy menangis tak henti-henti, “Tuhan, kenapa semuanya bisa terjadi seperti ini? Mom, I really need you now….” Katanya sambil terisak-isak.
Semua sudah terjadi. Tuhan sudah berkehendak. Mau tak mau Wendy harus menerima Anne sebagai pengganti Ibunya. Tapi, bisakah Wendy menghabiskan waktunya dengan Anne? Wajahnya saja Ia tidak tahu, apalagi sifatnya.
Oh My God. What am I supposed to do?”


To Be Continued....

Senin, 17 Desember 2012

Sunshine and City Lights (Chapter 5)


“Greyson, bagaimana dengan acara sore ini? Jadi?” Wendy menepuk pundak Greyson. Greyson segera menutup lokernya dan menjawab pertanyaan Wendy.
“Ya, tentu saja!”
“Apakah Nadine ikut? Kan lebih seru kalau lebih ramai!”
“Dia tidak bisa ikut. Dia ada acara bersama Edmund malam ini,”
“Okay, tak apa. Bagaima kalau aku berkunjung ke rumahmu? Sekalian aku membantumu membawa gitar atau yang lain,” Kata Wendy menawarkan bantuan.
“Tak usah, nanti namanya bukan kejutan lagi, haha. Aku akan berkunjung ke mansionmu jam lima”
“Yasudah. Satu jam lagi kita bertemu. Bye!”
Wendy berjalan menjauhi Greyson sambil melambaikan tangannya. Greyson pun membalas lambaiannya itu. Seharusnya dia segera pulang dan menyiapkan semuanya, tapi entah mengapa dia pergi mengunjungi taman yang dikunjunginya bersama Greyson seminggu yang lalu. Dilihatnya dua koin yang diam berdampingan, Koin milik Wendy dan Greyson. Wendy terus saja duduk di sisi kolam sambil menatap dasar kolam dengan pandangan kosong, mengingat semua kejadian beberapa malam yang lalu. Sangat menyenangkan, katanya dalam hati.
“Astaga! Sudah jam setengah lima? Aku harus cepat!”
Wendy berlari keluar taman dan mulai mencari taksi. Setiap taksi yang lewat tidak menghiraukannya. Tanpa pikir panjang, Wendy pun berlari sekencang-kencangnya. Untunglah, Wendy sampai di mansionnya tepat waktu. Ketika memasuki lobby mansion, Gadis berambut hitam itu melihat seorang laki-laki duduk di sofa. Disampingya terdapat satu kantung besar dan sebuah gitar klasik. Sedetik kemudian, handphone Wendy berbunyi, tanda ada telepon masuk. Nama Greyson terpampang di layar handphonenya. “Halo Grey,” jawabnya. Tiba-tiba laki-laki itu menoleh dan ternyata itu adalah Greyson Chance.
“Wendy! Dari mana kau? Kukira kau berada di mansionmu.” Greyson pun menghampiri Wendy sambil membawa kantung besar dan gitar tersebut.
"Aku ada urusan tadi, kantung apa itu Grey?” Jawab Wendy mengalihkan pembicaraan. Senyum Greyson mengembang, Greyson pun menarik tangan Wendy, “Liat saja nanti, hahaha. Ayo kita ke atas,”
Greyson memasuki Lift diikuti Wendy dibelakangnya. Lift yang mereka naiki, dilapisi kaca jendela dibelakangnya, sehingga cahaya matahari masuk ke dalam lift tersebut. “Wow, pantas saja kau suka tinggal disini! Pemandangannya indah!” Greyson sangat excited melihat pemandangan dari lift itu.
Lift berhenti di lantai 7. Mereka lalu berjalan dan berhenti di depan pintu bernomorkan 7-8. Wendy mengambil kunci lalu membuka pintunya. “Ayo masuk!” ajak Wendy. Ia menyalakan lampu ruang tengah dan dapur. Keadaan di mansionnya sangat hening dan sunyi. “Tidak ada siapa-siapa?” Tanya Greyson. “Tidak. Hampir setiap malam suasananya seperti ini, kaya anak kuliahan deh..”. Mereka lalu duduk di sofa ruang tengah, rasa penasaran Wendy pun sudah tidak bisa dibendung, kemudian ia menanyakan tentang lagu itu, “Ayo, aku ingin mendengar lagumu!” katanya antusias. “okay, dengar baik-baik ya,”. Greyson mengambil gitarnya, lalu suara-suara gitar mulai terdengar. “Lagu ini kupersembahkan untuk sahabatku, Wednesday Stone. Enjoy it Wendy!” Kemudian Greyson pun bernyanyi.
It's taking us downtown

You're watching me watching me watching me go
But I never listen
No I never let you know

Now we're heading uptown
Is there something or nothing you wanted to say?
'Cause I need to go now
Do you want me to stay?
I said stay...

What you need to know
Is to try and let it go let it go
What you need to find
Is someone who never will let you go

And oh oh
Sunshine and city lights will guide you home
And oh oh
Yeah you gotta know that I'll never let you go

Now we're stuck in midtown
Surrounded by people and nothing but sound
And we're going nowhere
And we are the lost and found

We're all over this town
Is there something or nothing you wanted to say?
Do you want me to go now?
'Cause baby I want to stay..
Oh stay...

What you need to know
Is to try and let it go let it go
What you need to find
Is someone who never will let you go

And oh oh
And sunshine and city lights will guide you home
And oh oh
Yeah you gotta know that I'll never let you go”


Setiap alunan musik yang ditimbulkan oleh suara petikan gitar dan suara emas Greyson membuat Wendy melayang. Melayang ke kota-kota yang disebutkan dalam lagu tersebut. Lagu itu membuat dirinya terasa seperti di suatu tempat. Suatu tempat yang tenang, hangat dan romantis. Wendy bertepuk tangan, kemudian Ia berkata, “Greyson Chance, kau adalah gitaris, musisi dan penyanyi terhebat yang pernah aku tahu seumur hidupku!” Wendy tetap menepukkan kedua tangannya, tanda Ia sangat terkesan dengan lagu, cara bermain gitar dan suara Greyson. “Thanks. Aku juga sangat menyukai lagu ini! Sangat romantis menurutku,” Sahutnya. Greyson menyimpan gitarnya, kini ia mengambil kantung besar yang dibawanya tadi, Greyson lalu membuka kantung tersebut dan mengeluarkan isinya. Besar, Indah, Berwarna-warni. Wendy mengerjap-ngerjapkan matanya saat melihat benda itu.
Greyson memegang sebuah gorden besar dengan gambar matahari terbit di tengah-tengah gedung pencakar langit.  Dua hal favorit Wednesday Stone.
Oh my!” serunya. “Greyson! It’s so beautiful!”
Really? Ini buatan Nadine, tapi Idenya berasal dariku, aku juga ikut membuatnya,” Greyson meletakkan gorden itu di lantai. “Do you like it?”
Of Course! Kalian sangat hebat!” Wendy terus memperhatikan gorden tersebut. Sorotan matanya menyatakan bahwa Ia sangat kagum dengan hasil karya Nadine dan Greyson itu.
“Itu adalah hadiah dariku untukmu,”
“Sungguh? Ini sangat keren, Greyson! Kau dan Nadine memang sangatlah kreatif! Terima Kasih. Terima Kasih banyak,”
My Pleasure,”
“Tunggu disini, aku akan segera memasangnya,” Wendy segera pergi ke kamarnya dengan membawa gorden pemberan Greyson, sedangkan Greyson melihat-lihat bingkai-bingkai foto yang tertera di dinding. Foto seorang Pria, Wanita dan Gadis kecil dengan rambut berwarna hitam. Wajah mereka terlihat sangat gembira. Apalagi Gadis kecil itu, wajahnya ceria sekali, seakan dia tak pernah merasakan sedih atau marah. Pria, Wanita dan Gadis kecil itu…
Wednesday Stone dan Ayah beserta Ibunya.
“Greyson, What do you want for dinner? Aku bisa membuatkannya untukmu, Sebagai tanda Terima Kasih-ku,” sahut Wendy dari dapur. Tidak ada jawaban dari Laki-laki itu. Wendy mencoba bertanya lagi, “Greysooon, apakah kau mendengarku?”. Tetap saja tak ada jawaban. Ia lalu menghampiri Greyson. Greyson yang mendengar langkah kakinya, langsung menolehkan kepalanya.
“Oh Wendy, kukira kau masih di kamar. Aku sedang melihat-lihat fotomu. You’re so cute in that photo,” pujinya.
Wendy menyunggingkan senyumnya sambil berkata. “Thank you,"
Kemudian Ia berjalan beberapa langkah tepat ke sebelah Greyson untuk bergabung.
“Kau tau yang ada di sebelah Ayahku itu?” Tanya Wendy.
Greyson membuka mulutnya, “Tidak,”
Dia Ibuku,”
“Beliau sangat cantik. Wajahnya mirip denganmu,”
“Ibuku meninggal ketika aku masih berumur 10 tahun. Beliau mengalami kecelakaan…….tepat saat hari ulang tahunnya,”
“Maafkan aku Wendy, Aku tidak bermaksud untuk….”
Wendy memotong kata-kata Greyson, “Tak apa-apa Greyson,”
“Oh ya, apa yang baru saja kau tanyakan padaku?”
“Tadi aku bertanya, apa yang kau mau untuk dinner? Aku bisa membuatkannya untukmu, sebagai tanda Terima Kasih-ku,”
“Apapun. Aku akan senang memakannya jika masakanmu enak,” canda Greyson.
Wendy tertawa kecil, “Kalau tak enak kau harus tetap memakannya ya,” sambung Wendy.
“Okay lebih baik kita berdua saja yang buat, aku tak mau merepotkanmu,” Lalu Greyson berjalan ke dapur, mengambil penggorengan dan memakai kantung kertas belanjaan, persis seperti Koki Profesional. Wendy tertawa kecil melihat kelakuannya itu, “Baiklah kalau itu maumu,”

To Be Continued....


Selasa, 04 Desember 2012

Sunshine and City Lights ( chapter 4 )


Dinner Greyson dan Wendy sudah usai daritadi. Tapi, Nadine dan Edmund tidak datang-datang juga. Greyson pun menemukan ide agar mereka berdua tidak berdiam-diam saja.

Hey, you wanna play a game?”
What kind of game?”.
”Ayo ikuti aku!”.

Greyson menarik tangan Wendy dan berlari menuju air mancur di dekat taman. “Lempar koin ini ke kolam. Sebelum melempar, coba kau sebutkan namamu, hal yang kau suka dan hal yang kau benci serta harapanmu! Bisa saja terkabul,” Greyson lalu memberi Wendy sebuah koin. “Oh ya? Kalau tidak terwujud aku salahin kamu ya?” canda Wendy. “Coba saja, seru lho. Memang ini bisa dipercaya atau tidak. Hahaha.”.

Wendy mundur beberapa langkah, Ia pun mengangkat lengan kanannya sambil memegang koin pemberian Greyson, lalu ia menutup matanya. “Namaku Wednesday Stone. Hal yang kusukai melihat cahaya mentari dan lampu kota, sedangkan yang kubenci adalah semua tentang pacar baru Dad dan harapanku adalah semoga Dad memutuskan hubungannya dengan Anne!!!!!!” teriaknya. Wendy pun melempar koin itu sekencang-kencangnya Lalu koin itu pun jatuh di dasar kolam. “Great Job! Sekarang giliranku.”

Greyson mengambil langkah dan mulai berkata, “Namaku Greyson Chance. Hal yang kusukai adalah musik dan yang kubenci adalah air mata. Kuharap aku bisa jadi musisi terkenal suatu hari nanti dan aku bisa menyanyikan satu lagu yang kubuat untuk ‘my future girlfriend’. Amiiiin!!!” Greyson mengambil ancang-ancang, lalu melempar koinnya. “Wow, kau adalah pelempar yang hebat,” puji Wendy.

“Ah, bisa saja. By the way, kau suka cahaya mentari dan lampu kota?” Tanya Greyson.

“Ya! Dua hal favoritku! Setiap hari aku bangun jam lima pagi. Menunggu matahari terbit dan lampu-lampu kota yang padam. Aku sering melakukannya sejak aku berumur tiga tahun,” 

“Sepertinya dua hal favoritmu telah mendatangkanku sebuah ide untuk lagu baruku,”

“Oh ya? Aku ingin mendengarnya!” kata Wendy antusias.

“Wow, not so fast. Kira-kira lagu ini selesai minggu depan, hari jum’at. Kau ada waktu?”

“Ya, tentu saja. Bagaimana kalau di mansionku? Ajak Nadine juga ya,”

“Haha Baiklah. Di mansionmu jam lima sore, okay?”

“Allright! Hmm, sebaiknya kita menyusul mereka.”

“Okay,”

To Be Continued....

Sunshine and City Lights ( Chapter 3 )


“Ibu, Ayah, Greyson Aku pulang!” Nadine dan Wendy memasuki kediaman keluarga Nadine. Suasana di rumah Nadine memang berbeda sekali dengan suasana mansion Wendy sekarang. Suasana di rumah Nadine berasa hangat, nyaman dan menyenangkan, tidak seperti di rumahnya yang gelap dan sepi.

“Ibu, ada Wendy tuh,” kata Nadine. “Wah Wendy, lama tak jumpa!”.”Selamat Malam Mrs.Bachelor!”. “Ibu hari ini Aku, Greyson dan Wendy tidak ikut dinner, boleh ya?” pinta Gadis blonde itu. “Okay. Jangan pulang lebih dari jam 9 malam,”.”Takkan kulanggar. Ayo Wendy!” Mereka pun segera masuk ke kamar Nadine. Nadine mengobrak-abrik semua isi lemarinya. “Nadine apa yang kamu lakukan?!” Wendy terbelalak melihat semua baju yang berada di tempat tidur dan lemari yang kosong melompong. “Aku akan memilih baju untukku dan untukmu!”.”Tak usah, aku bawa baju ganti kok,” Wendy mengeluarkan knitted socks, hot pants, kaus hitam dan jaketnya. “Sebaiknya kau mandi dulu dan bersiap-siap selagi aku memilih baju,”

Beberapa menit kemudian semuanya sudah siap. Edmund pun sudah sampai di restoran yang dia booking, mereka pun segera pergi.

Malam itu lampu kota bersinar benderang. Wendy tak henti-hentinya melihat lampu-lampu tersebut, sungguh membuatku nyaman, gumam Wendy. “Ayo, kita sudah sampai, Chop Chop!”. Mereka bertiga turun dari taksi dan masuk ke salah satu restoran.

“Edmund!” teriak Nadine. “Sstt, tenanglah sedikit Nadine,” kata Edmund. Nadine pun duduk di sebelah Edmund dan tidak menanggapi celotehan Edmund. “Aku membawa dua teman. Tapi kok kursinya cuma ada dua?”. Edmund kebingungan. “Yah, aku cuma booking dua kursi saja. Kenapa gak bilang dari awal Nadine?”.”Sudah tak apa, kita bisa cari restoran yang lain.” Kata Greyson. “Kan aku yang jadi gak enak sama kalian… atau….”.”eh gak apa-apa kok! Enjoy your date!” sambung Wendy. Wendy dan Greyson berjalan keluar dari restoran. “Mau dinner dimana nih?” Greyson memulai pertanyaannya. “Hmm.. Gimana kalau kita beli pizza terus makan di taman?” usul Wendy. Senyum Greyson mengembang, dia pun menanggapi pendapat Wendy, “Sounds good, let’s go!”. 

To Be Continued....

Sunshine and City Lights ( Chapter 2 )


Sore pun akhirnya tiba, inilah yang paling ia takuti. Latihan cheerleader sudah usai sejak jam lima sore. Ia terlanjur bilang pada Dad bahwa dia akan pulang agak larut, jadi Ia tak bisa dan tak akan pulang sekarang. Haruskah dia pulang dan ikut dinner bersama Anne? Tidak, Tidak harus. Wendy saja tidak mau berbagi oksigen dengannya.

Wendy melamun sambil melihat langit sore. Dia bingung, kemana dia seharusnya pergi? Oh andaikan Mom masih bernapas di dunia ini pasti aku tak akan mengalami masalah ini, batinnya.
                
“Hey Captain! Sedang apa? Kok melamun? Nanti kesurupan lho…”.Wendy terbangun dari lamunannya. Tiba-tiba saja Nadine berada di sebelahnya. “Pasti kau lagi kesulitan ya? Ceritakan saja padaku!” Wendy menarik napasnya dalam-dalam, lalu menghembuskannya. “It’s about My Dad. Anne, pacarnya, sudah menghilangkan semua ingatannya tentang anaknya ini dan almarhum istrinya. Kupikir Anne adalah nenek sihir! Setiap malam pasti Dad berada di rumah Anne dan meninggalkanku sendiri di mansion. Ayah macam apa itu?!” kata Wendy, emosinya meluap-luap. “Tenang, tenang Wendy. Jadi apa inti masalahmu itu?” Nadine bertanya. “Malam ini dia akan mengajak Anne dinner di mansionku. Aku bilang aku akan berlatih cheerleader hingga malam. Sekarang aku harus pergi kemana? Aku tak mau pulang….”. Mereka berdua pun terdiam, Nadine terlihat berpikir keras demi menemukan jalan keluar untuk sahabatnya itu. “Ah! Bagaimana kalau kau ikut aku dan Edmund ke tengah kota?! It’ll be fun!”.”Tidak, terima kasih. Nanti aku jadi kambing congek lagi,”. “Tidak akan! Kan kau bersama Greyson! Kumohon….” Nadine memegang tangan Wendy lalu menunjukkan ‘tatapan penuh harap’nya. “Oke baiklah, ayo kita pergi!”

To Be Continued....

Sunshine and City Lights ( Chapter 1 )


Sinar Mentari dan Lampu Kota. Dua hal yang sangat disenangi Wendy. Perlahan-lahan, lampu kota yang dilihat matanya mulai hilang dan digantikan oleh sinar mentari yang muncul di ufuk timur dengan malu-malu. Wendy tersenyum kecil. Hanya dengan melihat peristiwa tersebut dapat membuat dirinya tenang dan masalah-masalahnya hilang dalam sekejap. Ia pun bangkit dari balkon kamarnya dan mengambil ransel.

Lagi-lagi mansionnya dalam keadaan kosong. Lampu-lampu masih menyala. Pasti Dad tak pulang tadi malam, pikir Wendy. Tiba-tiba telepon rumahnya berdering, langsung saja Ia menjawab panggilan tersebut.
                
“Ya, Wednesday Stone disini. Siapa ya?”.“Ah Wendy, ini Dad. Hari ini Aunt Anne akan datang ke mansion untuk dinner. Sore ini kau tak ada latihan Cheerleader kan?” Katanya. Wajah Wendy menunjukkan rasa kesal, ia pun menjawab pertanyaan Ayahnya dengan penuh emosi, “Hari ini aku ada latihan sampai malam! Maaf aku tidak bisa pulang cepat,” Wendy lalu membantingkan gagang telepon ke tempatnya. “Selalu saja Anne yang dipikirkannya! Sampai-sampai anak dan almarhum istrinya dilupakan! Argh!” geramnya. Ia membanting pintu mansionnya lalu berjalan ke lift dan keluar dari mansion.
                
“Hey Wendy!” sahut seseorang dari kejauhan. Wendy menoleh, dilihatnya Nadine berlari-lari kecil. “Nadine! Tumben sekali kau datang pagi,”. “Iya nih, aku disuruh berangkat cepat-cepat sama ibuku!” Nadine membalikkan badannya dan berteriak, “Greysoooooon! Cepat!”. Dari kejauhan seorang laki-laki berlari menuju mereka.

“Nadine, siapa itu?” Tanya Wendy. “Dia sepupuku, Greyson Chance. Dia baru saja pindah kemarin dan dia bersekolah di Mckinley High School!” Terang Nadine. Wendy mengangguk sambil melihat Greyson mendekati mereka. “Aduh Nadine, jangan cepat-cepat dong!” gerutunya. “Terserah aku dong! Oh iya, Greyson ini Wendy, dia sahabatku yang selalu kuceritakan padamu! Ingat?”.

Menceritakan tentang Wendy? Apa maksudnya?

“Aku Greyson. Senang bertemu denganmu.”.”Ya, aku juga.” Lalu mereka bertiga terdiam. Suasana terasa sangat Awkward, Nadine pun mulai menarik tangan Wendy dan Greyson lalu berkata dengan cerianya, “C’mon! kita berangkat!”. Mereka bertiga  berangkat ke Mckinley High School.

To Be Continued....